Simple guide for dummies: Panitia Ujian semester (part 1)

December 10th 2014

Hola.

Saat ini di sekolah kami sedang mengadakan ujian semester ganjil dan untuk pertama kalinya saya jadi panitia ujian. *excited*

Namun ternyata jadi panitia ujian itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak kerjaaaaaaan bow! Dan untuk menjadi panitia ujian yang baik, perlulah diperhatikan hal-hal berikut:

  • PERSIAPAN

  1. Pastikan jadwal ujian.

Ini penting. Karena dengan mengetahui kapan hari pertama hingga hari terakhir ujian dapat membantu kita dalam hal:

  • Tenggat waktu pembuatan dan pengumpulan soal ujian.
    Ini sebaiknya satu minggu sebelum ujian dimulai. Waktu satu minggu ini akan membantu jika terjadi keterlambatan penyerahan soal oleh bidang study terkait. Sehingga panitia dapat mengingatkan guru tersebut dan memberi kesempatan pada panitia untuk melakukan proses selanjutnya agar tidak terjadi yang namanya kerja terburu-buru, panik atau sejenisnya.
  • Dokumen ujian.Setelah soal ujian terkumpul. Maka proses selanjutnya adalah penggandaan dokumen ujian yang meliputi:

    1. Data jumlah peserta ujian
    2. Penentuan Jumlah ruang ujian yang akan digunakan
    3. Pembuatan nomor ujian.
    Rangkap dua, satu rangkap untuk di tempel di meja ujian, satu lagi dibagikan pada peserta ujian.
    4 Penggandaan Soal Ujian –
    Sejumlah peserta ujian plus 5% (jika terjadi soal rusak dan sebagainya)
    5. Lembar Jawaban –
    Sejumlah peserta ujian plus 5% (jika terjadi lembar jawaban rusak dan sebagainya)
    6. Kertas buram
    7. Absensi peserta – 3 rangkap
    8. Berita acara ujian
    9 Absensi panitia
    10. Absensi pengawas
    11. Tatib Ujian
    11. Jadwal Ujian.
    12. Jadwal pengawas ujian.
    13. Denah lokasi ujian.
    14. Denah ruang ujian.
    Di pasang/tempelkan pada map pembagian soal dan kaca depan ruang ujian
    15. Blanko serah terima/pengambilan lembar jawaban.
    16. Blanko nilai

to be continued……….

New School, New Rule!

Hi, it’s been ages since the last time I up date. How are things?

Previously….
More than a year I’ve moved to new school. Now, I’m teaching at Vocational School.

Sekolah yang lama dan yang sekarang memiliki beberapa kesamaan, didirikan pada tahun yang sama, memiliki guru-guru pertama pada pengangkatan PNS tahun yang sama, dan memiliki ciri dan latar belakang siswa yang sama.
Kali ini saya akan menbahas tentang kejadian tahun pertama saya mengajar di sekolah ini. Awal mula saya bertugas pada sekolah yang baru sekitar akhir bulan Mei 2013. Saat itu anak kelas 12 sudah melewati UN dan bersiap untuk acara perpisahan. Saya hanya sebagai pengamat saja pada saat itu.

Sebagai guru baru di sekolah itu. pada awal tahun ajaran baru 2013/2014 saya mendapat tugas mengajar satu lokal tingkat 10, dan dua lokal tingkat 11 dengan jumlah jam mengajar 12 jam. Saya tidak begitu terkejut dengan keadaan dan penampilan siswanya. Tidak jauh berbeda dengan sekolah saya yang lama. Hanya saja saya cukup terkejut saat saya sudah mengajar sampai pada beberapa kali pertemuan di kelas tersebut. Sebagian besar anak-anak nya sungguh sangat tidak responsif. Mereka terlalu pasif, bahkan tampak tidak acuh terhadap pelajaran yang saya sampaikan. Keadaan ini membuat saya cukup frustasi mengingat tahun sebelumnya, (sebelum pindah) saya mengajar di tingkat 12 dan rata-rata siswa kelas tersebut sudah 2 tahun belajar dengan saya sehingga semuanya dalam kendali. Siswa-siswa ini berbeda sama sekali, mereka seperti tidak perduli dengan semua aturan yang ditetapkan mengenai pelajaran dan perolehan nilai. Berkali-kali saya mengingatkan mereka untuk memperhatikan. Saat diberi ulangan harian, nilainya sangat mengecewakan, dan saat diumumkan jadwal dan jenis kegiatan remedi, thampir tak seorang siswa pun yang perduli dan memenuhi kewajiban remedial hingga batas waktu yang diberikan. Saya coba komunikasikan hal ini dengan teman sejawat, tapi bukannya dapat masukan, seseorang malah berkata,

“Ini anak SMK Ms. Rindu… anak SMK itu memang begitu, kemampuan mereka tidak bisa disamakan dengan anak SMA.”

Tentu saja saya tidak dapat menerima peryataan tersebut. Bagi saya semua siswa sama dalam pandangan mata pelajaran saya. SMA maupun SMK. Hanya saja, siswa SMK dituntut untuk lebih aktif dalam komunikasi interpersonal dibandingkan siswa SMA yang lebih benyak belajar untuk membaca dan memahami teks. Intinya, siswa tersebut mampu jika saja mereka mau mengikuti pelajaran dengan baik.

Akhirnya, pada rapat akhir semester satu saya memohon pada pihak sekolah untuk memberikan saya kewenangan dan tenggang untuk menahan nilai siswa yang tidak mau meremedi nilai mereka. Sekolah mengabulkan. Awal semester ke dua para siswa tersebut mulai bergantian menemui saya menanyakan nilai mereka yang kosong di raport. Saya jelaskan bahwa nilai mereka kosong karena mereka tidak memenuhi kewajiban dalam semester yang lalu, dan jika mereka ingin mendapatkan nilai, maka kewajiban yang lalu harus segera dipenuhi dalam waktu sesingkat-singkatnya.

then, it works.

Siswa-siswa yang awalnya tidak perduli dengan semua peraturan kelas yang saya ajar, satu-satu mulai perduli. Mereka mulai melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai siswa saya. Dan pada akhirnya di akhir semester 2, saat akan kenaikan kelas, semua tugas-tugas dan kewajiban para siswa tersebut terselesaikan dengan baik. Tentu…saja, hasilnya cukup memuaskan….

Anggapan bahwa mereka tidak mampu, terbantahkan dan terbukti salah!

Siapapun mereka, darimanapun asal sekolah mereka, jika mereka benar-benar serius untuk mengikuti pelajaran dan aturannya, saya yakin mereka bisa!

Salah Suhunya….

Di sebuah planet yang letaknya sangat jauh dari bumi, dikenal sebagai planet Debilitanium hiduplah sebuah bangsa yang menyebut dirinya sebagai bangsa Purbaritotum. Di masyarakat Purba ini, pendidikannya sugguh sangat tidak masuk akal jika dilihat dari kacamata penduduk planet Bumi.

Purbarian muda yang berumur dibawah 17 tahun harus mengikuti proses peningkatan kemampuan di sebuah lembaga yang disebut dengan Lameplace. Di Lameplace mereka dikenal dengan Stupidian. Pembimbing mereka dipanggil Suhu. Para Stupidian difasilitasi dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan Batu kenaikan tingkat. Para penguasa masyarakat Purba percaya bahwa Purbarian muda merupakan makhluk yang cerdas, sehingga sungguh sangat tidak mungkin Purbarian muda gagal dalam mendapatkan Batu kenaikan kalau bukan karena para Suhu yang tidak kompeten.

Para suhu berupaya dengan segenap kemampuan dan kesabaran dalam mengalirkan keahlian mereka kepada para Stupidian. Untuk mengukur ketercapaian ilmu, secara berkala Stupidian diberi uji coba kemampuan. Kegiatan ini diberi nama Rintangan berkala. Sebagai bukti kelulusan tahap Rintangan berkala para Stupidian diberikan Pasir yang akan digunakan untuk mendapatkan syarat kenaikan level yaitu Batu kenaikan. Pada tahap Rintangan berkala, para stupidian yang gagal dalam mengumpulkan Pasir, akan diberi bimbingan khusus. Sayangnya beberapa Stupidian merasa sudah sangat cerdas dan mampu, kegagalan yang dialaminya pada Rintangan berkala dianggap bukan masalah besar. Saat kegagalan si Stupid terjadi di pada beberapa mata uji, si Stupid tidak juga perduli. Benar, karena walaupun pasirnya tidak mencukupi, ia tahu Batu kenaikan tetap akan diperolehnnya. Setiap batu kenaikan didapatkannya dengan cara yang sama. Akhirnya, ditetapkalah jadwal Rintangan tahap akhir. Di Rintangan ini, Pasir-pasir dikumpulkan demi menciptakan batu mulia. Jika ada diantara para stupid yang tidak mampu menciptakan batu mulia sebagai hasil, mereka akan gagal.

Rintangan akhir sungguh sangat genting dan menentukan bagi para Stupidian. Tidak sampai di situ, para Penguasa Purbarian juga dibuat cemas. Kenapa tidak? hasil Rintangan ini dianggap sangat mempengaruhi Gengsi planet tersebut di mata planet lain. Mengantisipasi kejatuhan gengsi planet Debil, sang penguasa berpesan kepada para suhu sebelum mengawasi proses rintangan. Para suhu harus dapat memastikan para Stupidian berhasil melalui rintangan akhir ini, apapun caranya. Walaupun selama ini si Stupid hanya dapat mengumpulkan sedikit sekali pasir, biarkan Stupid tetap ikut Rintangan Akhir. Selama proses Rintangan, jangan sekalipun para Suhu menghalangi upaya para Stupid untuk mendapatkan pasir-pasir dari tempat lain. Biarkan saja, asalkan mereka berhasil menciptakan batu Mulia, apapun caranya, biarkan saja. Kalau perlu, fasilitasi!

Descriptive Text, Sample Question of UN 2012

Walau terlihat sederhana, sebuah teks berjenis Descriptive dalam sebuah soal Ujian Nasional bisa menjadi masalah besar, in case you have an obsession to get 100% right for your answer. :mrgreen:

Sebelum kita menuju contoh soal, mari kita ulang kembali apa itu “Descriptive Text“.

Descriptive text adalah sebuah text/tulisan yang memiliki,

Tujuan (purpose): menggambarkan suatu hal yang khas, a specific thing, dengan rinci.

Mengenali tujuan dari sebuah teks adalah hal yang penting. Dari tujuan tersebut kita dapat melihat kedalam diri terhadap apa yang kita inginkan dari membaca text tersebut. Kembali ke Descriptive text, maka tujuan text ini adalah menggambarkan suatu hal, sehingga setelah kita membaca apa yang digambarkan dalam text tersebut, sedikit banyak kita dapat memebayangkan hal tersebut didalam pikiran kita.

Sebuah tulisan, tentu memiliki tata cara penulisan yang baik agar mudah dimengerti. Dalam hal ini disebut dengan Text organisation. Dalam Descriptive text, text organisation-nya terdiri dari dua bagian, yakni:

Struktur penulisan text (text organisation):

1. Identification
Identification adalah pemberian nama pada seseorang atau sesuatu agar dapat dikenali.

Sebagai contoh: Tom the Cat (nama hewan peliharaan), or Taj Mahal (nama bangunan), Pariaman (nama tempat).

Dipargraph Identification, hal yang akan dideskripsikan diberi nama dan dikenalkan.

2. Description
Dibagian ini, setelah menyatakan hal yang akan digambarkan, maka selanjutnya adalah menggambarkan tentang hal tersebut secara terperinci agar mudah dikenali.

Sudah jelas sekarang tentang pembagian text Descriptive dan Tujuannya?

Sekarang mari kita lihat contoh text Descriptive dalam soal UN tinggat SMA tahun 2012.

_____________________________ *_________* _______________________________

Kapoposang is one of the largest of the Spermonde Islands, around 70 km northwest of Makassar, South Sulawesi. Kapoposang covers an area of around 50,000 hectares and is inhibited by around 100 hectares and is inhibited by around 100 families. Several other islands, both inhabited and unhabited, lie near Kapoposang. The larger ones include Papandangan, Kondongbali, Suranti, and Tambangkulu.
Kapoposang and the nearby islands were declared a Nabure Tourism park by a Department of Forestry in 1999. Diving has been an important activity at Kapoposang. There were so few local divers at a time, and because of the distance from other well-known diving areas in Indonesia. Kapoposang has basically remained a secret.
The best time to visit Kapoposang is between April and November, when the seas are calm, weather favorable, and the wind less fierce than in the other months. The trips takes two hours by speedboat; the ocean breezes help to cool your skin in the hot morning sun. As you approach Pulau Kapoposang, you see the deep blue water, which suddenly meets an expanse of coral reefs between extensive hallows with white sands in the seabed. Sea grass also frows lushly near the shore. The sea bed at Kapoposang has a unique composition; near the island are some quite shallow contours, and then suddenly sleep underwater cliffs leading to seemingly endless depths. The water is very clear; you can expect underwater visibility of over 15 meters–ideal condition for divers.

1. The text is about…..
A. Kapoposang and the surrounding island
B. Kapoposang as a diving spot
C. Kapoposang as a very popular tourism spot
D. Kapoposang as asecret area
E. Kapoposang and the weather

________________________________ *_________* ______________________________

Nah, menurut pembaca semua, jawaban apa yang tepat?

Dalam kunci yang saya dapat, jawabannya adalah “Kapoposang as a very popular toursim spot.”

Sepakat dengan jawaban ini? Saya tidak. Meskipun dalam salah satu indikator dalam memahami sebuah text adalah menebak makna tersirat. tapi tidakkah terlalu sulit untuk menebak bahwa Kapoposang itu adalah sebuat tempat wisata yang sangat popular, sementara tidak satu katapun dalam teks tersebut menyatakan bahwa Kapoposang tersebut adalah tempat wisata popular dengan jelas??
Ada beberapa indikator memang, misal kalimat, “There were so few local divers at the time” yang mengindikasi bahwa sangat sedikit penyelam saat itu, namun ini sedikit tidak sesuai dengan peraturan text descriptif, yakni menggunakan kata kerja bentuk pertama (Present Verb), dan juga tidak berarti bahwa sekarang Kapoposang suatu tempat wisata yang sangat populer, bisa saja populer, tetapi tidak sangat. Dan kalimat “Kapoposang has basically remained a secret.” sungguh tidak sesuai dengan kata very popular.

Intinya, saya lebih sepakat jika pilihan jawaban yang benar adalah “Kapoposang as a diving spot.” Any objection?

Review Text, Teaching Method

Apakah salah jika kita mengambil sebuah artikel di internet (tanpa bertanya kepada si pemilik), dan memasukkan nya kedalam text ajar yang kita buat dengan menyertakan sumber, yang mungkin untuk membantu profesi kita (seperti kredit point dan kenaikan pangkat), namun tidak secara langsung menggunakannya dalam bentuk perdagangan?

Buat para guru, punya masalah mengajarkan materi text Review?
Para siswa, sulitkah memahami text Review?

Somehow, I just feel that teaching or learning Review Text is quite easy –if the phrase “sooooo… easy” is too exaggerated. As easy as teaching Narrative text. Why is that?

First, let’s take a look to Text Organizations of Review Text:

1. Orientation

2. Interpretative Recount

3. Evaluation

*switch to Bahasa Indonesia*

Secara sederhana, mari kita jabarkan ketiga bagian di atas sebagai berikut.

1. Orientation
Yang dimaksud orientation, adalah pengenalan. Sebelumnya kita harus jelas dulu, apa yang ingin kita review. Film? Buku? Music? Produk? Sebagai contoh, jika kita ingin mereview sebuah film, maka sebagai pengenalan minimalnya kita dapat menyebutkan tentang Judul, sutradara, pemeran, dan karakter dari film tersebut. Hal-hal di paragraph orientation itu menyiapkan “latar belakang” bagi pembaca mengenai apa yang akan kita review.

2. Interpretative Recount

Paragraph Interpretative Recount adalah paragraph yang berisi plot, atau cerita singkat mengenai film yang sedang kita review. Hal yang perlu diceritakan adalah bagian awal dari film itu, dan beberapa hal penting dari plot.

#Penting: menyebutkan akhir dari film tidak dibenarkan.

3. Evaluation
Inilah bagian penting dari tulisan Review. Karena tujuan text review adalah memberi penilaian. Penilaian mengenai jalan cerita film (Interpretative recount) dan/atau mengenai para pemeran, atau hasil kerja sutradara dalam film yang kita bahas. Apakah kita cukup puas dengan film ini, sedang-sedang saja atau malah kecewa sama sekali.

Nah, sekarang kita sudah paham benar, bagian-bagian dari text Review.

Bagaimana jika kita ingin melihat apakah siswa benar-benar memahami bagaimana sebuah text review yang benar, namun sebagian besar dari mereka kesulitan dalam memahami tulisan berbahasa Inggris?

Salah satu cara yang paling mudah (menurut saya) adalah memberi mereka tugas untuk mencari jenis text ini di Internet. Text Review yang perlu mereka temukan cukup yang berbahasa Indonesia. Text jenis ini sangat banyak tersebar di Internet. Kita lakukan tahap awal ini dengan tujuan, untuk melihat, apakah siswa sudah benar-benar paham tentang pola tulisan text Review. Jika tahap ini berjalan dengan baik, baru selanjutnya kita mulai mengajarkan para siswa memahani text ini ke dalam artikel bahasa Inggris. Atau, kita tidak perlu melakukan tahap “Bahasa Indonesia” jika di mata pelajaran Bahasa Indonesia, mereka membahas jenis text ini. Is there any?

*go to Bahasa Indonesia’s teacher*

Kenapa bukan guru yang membawakan text tersebut untuk dipelajari? Ini cukup dilematis. Semua tulisan dan karya yang tersebar di Internet memiliki hak cipta, baik dinyatakan secara tertulis maupun tidak, dan ada norma-norma yang perlu diperhatikan. Terkait dengan itu, saya pernah merasakan betapa sulitnya membawa jenis text Review tertentu yang saya dapat di internet ke dalam kelas. Entah apa yang dipikirkan oleh para pemilik text, sehingga ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk mendapatkannya. Maka saya berfikir sebaliknya. Bukan saya yang membawa text tersebut ke kelas, tapi siswa. Tidak, saya pikir, ini tidak melanggar hak cipta (berbeda jika saya yang menyediakan text tersebut). Dari artikel yang dibawa siswa ke kelas dalam bentuk hasil print, maka di kelas, hasil pekerjaan mereka akan dibahas. Apakah mereka menemukan text yang benar, selanjutnya, tugas mereka hanya akan berakhir dalam tumpukan file tugas, atau di tempat sampah. Tidak seorang pun dari kami bermaksud menggunakan artikel tersebut sebagai milik pribadi yang mana akan terkait dengan hak cipta.

Dengan begitu, sebagai guru, kita akan mendapatkan dua kelebihan.

  1. Kita dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap text review dari artikel yang mereka bawa.
  2. Kita tidak melanggar hak cipta siapapun dalam menyediakan artikel mereka sebagai bahan ajar di kelas. Walaupun jujur, secara pribadi, saya tidak begitu paham tentang penggunaan hak cipta sebuah tulisan di internet kedalam pelajaran di sekolah. Kecuali saya menggunakan tulisan tersebut kedalam buku yang saya tulis dan bermaksud memperjual belikannya.

Trivia

Apakah kita sebagai guru bersalah jika kita mengambil sebuah artikel di internet (tanpa bertanya kepada si pemilik), dan memasukkan nya kedalam text ajar yang kita buat dengan menyertakan sumber, yang mungkin untuk membantu profesi kita (seperti kredit point dan kenaikan pangkat), namun tidak secara langsung menggunakannya dalam bentuk perdagangan?

Apakah mereka para pengarang Text book pelajaran, yang menyertakan “kutipan” iklan, artikel, dsb kedalam isi buku mereka secara langsung menanyakan perizinan “pengutipan” pada si penulis/pemilik? dan apakah mereka memberi semacam “royalti” pada si penulis/pemilik?

Karena setahu saya, kita tidak perlu meminta izin secara langsung pada pengarang buku terkait, jika kita menuliskan kutipannya kedalam tulisan kita. Cukup mencantumkan sumber. But, who knows?